https://tangsel.times.co.id/
Berita

Khutbah Jumat Edisi 2 Januari 2025: Meneguhkan Saleh Ritual dan Saleh Sosial

Jumat, 02 Januari 2026 - 08:52
Khutbah Jumat Edisi 2 Januari 2025: Meneguhkan Saleh Ritual dan Saleh Sosial Ilustrasi kesalehan sosial. (FOTO: Yusuf Arifai/TIMES Indonesia)

TIMES TANGSEL – >KHUTBAH PERTAMA

الحمد لله رب العالمين، الحمد لله الذي جعل الدين هداية، وجعل الشريعة رحمة، وجعل الأخلاق ميزان الإيمان.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن سيدنا محمدًا عبده ورسوله، اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد، وعلى آله وصحبه أجمعين.

أوصيكم عباد الله وإياي بتقوى الله، فقد قال الله تعالى:﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Hadirin jamaah Jumat rahimakumullah,

Islam adalah agama yang sempurna. Kesempurnaan Islam tidak hanya tampak pada ketertiban ibadah ritual, tetapi juga pada kedalaman nilai sosial dan kemanusiaannya. Karena itu, para ulama Ahlussunnah wal Jama’ah menegaskan bahwa kesalehan seorang muslim harus bersifat menyeluruh, bukan parsial.

Kesalehan itu mencakup saleh ritual dan saleh sosial.

Saleh ritual adalah ketaatan kepada Allah SWT melalui salat, puasa, zakat, dan ibadah-ibadah mahdhah lainnya. Namun, para ulama menegaskan, ibadah ritual tidak berdiri sendiri, melainkan harus melahirkan dampak nyata dalam kehidupan sosial.

Imam Al-Ghazali رحمه الله berkata dalam Ihya’ Ulumiddin:

وَاعْلَمْ أَنَّ الْعِبَادَاتِ لَا تُقْصَدُ لِذَوَاتِهَا، وَلَكِنْ لِمَا تُورِثُهُ مِنْ تَهْذِيبِ النَّفْسِ وَتَزْكِيَتِهَا

Artinya:
Ibadah tidak dimaksudkan pada bentuk lahiriahnya semata, tetapi pada dampaknya dalam menyucikan jiwa dan memperbaiki akhlak.

Maka, salat yang benar akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Puasa yang benar akan melahirkan empati kepada orang lapar. Zakat dan sedekah bukan hanya menggugurkan kewajiban, tetapi membangun keadilan dan solidaritas sosial.

Inilah yang oleh para ulama dan tokoh NU, termasuk KH. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus), disebut sebagai saleh sosial: kesalehan yang menghadirkan manfaat bagi sesama manusia dan lingkungan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.

Hadirin rahimakumullah,

Dalam fikih Syafi‘iyah, konsep saleh sosial memiliki landasan yang sangat kuat.

Imam As-Suyuthi dalam Al-Asybah wa an-Nazhair menegaskan kaidah besar:

التَّصَرُّفُ عَلَى الرَّعِيَّةِ مَنُوطٌ بِالْمَصْلَحَةِ

Artinya:
Segala tindakan dan kebijakan harus berpijak pada kemaslahatan.

Artinya, agama tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga mengatur bagaimana agama menghadirkan manfaat dan kemaslahatan sosial. Kesalehan yang tidak melahirkan manfaat sosial berarti belum menyentuh tujuan utama syariat.

Bahkan dalam fikih ditegaskan, amal yang manfaatnya dirasakan orang lain lebih utama. Dalam I‘anatut Thalibin disebutkan:

وَتَقْدِيمُ النَّفْعِ الْمُتَعَدِّي أَفْضَلُ مِنَ النَّفْعِ الْقَاصِرِ

Artinya:
Amal yang manfaatnya dirasakan orang lain lebih utama daripada amal yang manfaatnya hanya untuk diri sendiri.

Karena itu, menolong fakir miskin, membantu korban bencana, menjaga kerukunan, bahkan menjaga lingkungan, dalam kondisi tertentu lebih utama daripada ibadah sunnah individual.

Hak Sosial Tidak Boleh Diabaikan

Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,

Oleh sebab itu, hak sesama manusia tidak boleh dikalahkan oleh ibadah personal.

Dalam Bughyatul Mustarsyidin dijelaskan:

حُقُوقُ الْعِبَادِ مُقَدَّمَةٌ عَلَى حُقُوقِ اللَّهِ فِي الْمُشَاحَّةِ

Artinya:
Hak-hak manusia didahulukan daripada hak Allah dalam perkara sengketa.

Maknanya, Allah Maha Pengampun, tetapi kezaliman kepada manusia tidak akan gugur hanya dengan salat dan puasa. Maka, orang yang rajin ibadah tetapi masih menyakiti sesama, menipu, merusak lingkungan, atau memecah belah umat, belum bisa disebut saleh secara utuh.

Imam Zainuddin al-Malibari dalam Fathul Mu‘in menegaskan:

وَحُسْنُ الْمُعَاشَرَةِ مَعَ الْخَلْقِ مِنْ كَمَالِ الْإِيمَانِ

Artinya:
Berakhlak baik dalam pergaulan sosial adalah bagian dari kesempurnaan iman.

Hadirin rahimakumullah,

Islam yang diajarkan para ulama NU adalah Islam rahmah, Islam yang menenangkan, bukan menakutkan; merangkul, bukan memukul; membangun, bukan merusak.

Karena itu, menjaga persaudaraan, toleransi dalam kebhinekaan, gotong royong, dan kepedulian sosial adalah bagian dari ibadah.

Sebagaimana ditegaskan kaidah fikih 

لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

Artinya:
Tidak boleh membahayakan diri sendiri dan orang lain.

Maka, merusak lingkungan, menyebar kebencian, hoaks, dan fitnah, meskipun dibungkus simbol agama, bertentangan dengan fikih dan ruh syariat.


بارك الله لي ولكم في القرآن العظيم، ونفعني وإياكم بما فيه من الآيات والذكر الحكيم.
أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم.

 

KHUTBAH KEDUA 

الحمد لله حمدًا كثيرًا طيبًا مباركًا فيه، كما يحب ربنا ويرضى.
أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله.

أوصيكم عباد الله وإياي بتقوى الله، فإن تقوى الله رأس كل خير.

اللهم اجعلنا من عبادك الذين جمعوا بين صلاح العبادة، وصلاح المعاملة، اللهم زكِّ نفوسنا، وأصلح أخلاقنا، واجعلنا مفاتيح للخير مغاليق للشر.

اللهم أصلح أحوال المسلمين، وألّف بين قلوبهم، وادفع عنهم الفتن ما ظهر منها وما بطن، ووفق ولاة أمورنا لما تحب وترضى.

ربنا آتنا في الدنيا حسنة، وفي الآخرة حسنة، وقنا عذاب النار.

عباد الله،
إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ
فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر  الله أكبر

Pewarta : Yusuf Arifai
Editor : Bambang H Irwanto
Tags

Berita Terbaru

icon TIMES Tangsel just now

Welcome to TIMES Tangsel

TIMES Tangsel is a PWA ready Mobile UI Kit Template. Great way to start your mobile websites and pwa projects.